0
Dikirim pada 23 November 2009 di Novel

Kini aku dapatkan jawabannya hati disini sudah tak penting lagi, yang penting adalah kehidupan harus terus berjalan sesuai dengan yang kau mau. Bila kau ingin menyingkirkan beberapa orang kau bisa melakukannya, namun harus kau lakukan sendiri agar tak ada yang bisa mengkhianatimu. Sebab dunia sudah semakin tua oleh bermilyar penghianatan. Banyak orang yang terbunuh hanya karna penghianatan kerabat atau sahabat.

Kamar mandi bercat biru menungguku dengan segala aromanya yang segar, disana aku merasa tenang merasa telah bersih dari semua dosa yang telah kulakukan, merasa tak ternoda oleh semua peristiwa yang sulit untuk dikenang. Aku bersihkan semua oli-oli yang melekat ditangan dan dadaku, oli dapat dibersihkan dengan sangat mudah, namun apa yang ada didalam dada, sakitnya tak dapat aku cegah.

Aku masih mempunyai dendam dengan semua keluargaku, meskipun aku tak kenal siapa mereka, wajahnya pun tak pernah aku mengingatnya, namanya apa lagi, aku tak kenal, tapi gejolak untuk menghancurkan mereka semua selalu ada dihati. John ia adalah satu-satunya orang yang mencintai jiwaku walau dengan cara yang berbeda, mengasuhku dengan metode bertahan dan melawan yang mungkin tak dilakukan oleh semua orang tua. Aku mencintai John sebagai jiwa kedua bukan siapa-siapa.

Lama aku menyeka tubuhku yang sudah semakin segar, jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.00. Tak seperti biasa aku mandi terlalu lama, John pasti sudah menunggu di Pickup yang diparkir didepan rumah. Kupercepat memakai semua peralatan untuk tugas malam ini.

Sekilas wajah Mampish yang penuh kengerian sewaktu itu terngiang lagi dalam ingatan, teriakannya yang tertahan hanya bisa membuatku tersenyum cerah. Malam ini akan ada pembunuhan yang lebih besar lagi, lebih seru dan lebih terencana tentunya mungkin akan bisa membuatku tertawa.

John tersenyum padaku ketika ia berada dibawah tangga,

“Mau kemana kau Gee ? dengan baju seperti itu ?” tanya John sembari tertawa kecil

“Oh… Ayolah John… ini penyamaran saja. Kau tak mau semua curiga hanya karna baju hitam itu khan?” aku balas senyum padanya “sudah kusiapkan semuanya, tenang saja John”

“kau yang bawa atau aku?” sambil menggoyang-goyang kunci pick upnya

“Lets go” kusambar kuncinya dengan sebelah tangan, semua peralatan sudah tertata rapi di jok belakang, tak ada yang curiga dengan tumpukan tepung, polisi pun tak mungkin.

By Ayuna

Tunggu kelanjutannya.........

 



Dikirim pada 23 November 2009 di Novel
comments powered by Disqus
Profile

hmmmmm... Hanya ingin bercerita dan berbagi More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.028.097 kali


connect with ABATASA